LATO LATO

  • Bagikan

kupas.news

Opini – siang dan malam, hampir di setiap kampung atau daerah, kita akan mendengar suara Tek, Tek, Tek, Tek, Tek. Dari anak-anak sampai orang dewasa permainan yang disebut lato lato ini, menjadi permainan yang lagi trend. Kalau dulu batu cincin, kemudian berubah ke musim bunga, kemudian daun sungkai, heboh pemakaian skinker, dan kini lato lato.

Permainan dua buah bentuk bola yang diikat tali kemudian digoyang menggunakan keseimbangan yang berefek bunyi Tek, Tek, Tek, Tek, Tek. Suaranya saat ini, terdengar dimana-mana, hampir setiap rumah ada yang mainkannya. Dan tahukah Anda ternyata permainan ini sudah lama lo? Sekitar tahun 1960 permainan ini sudah ada di Amerika Serikat dan Eropa. Mereka menamakannya clackers. Dulu, lato lato menggunakan bahan kaca dan kayu, yang kemudian dilarang karena berbahaya bagi mata jika bolanya pecah. Kemudian di Indonesia sekitar tahun 70-an dan 80-an juga sudah dikenal oleh anak-anak masa itu. Sekarang viral kembali.

Baca Juga :   Minyak Kelapa, Solusi Atasi Kelangkaan Minyak Goreng Sawit

Oya kolpah piwari, permainan ini disebut lato lato disinyalir berasal dari bahasa Bugis yakni kajao kajao, yang artinya nenek. Entah kenapa kemudian menjadi lato lato. Cari sendiri ya sejarahnya? Kini di Indonesia permainan ini menjadi viral dan banyak menuai pro dan kontra. Bagi yang pro mereka mengatakan bahwa ada efek positif bagi anak-anak kita, supaya mereka tidak keranjingan gadget yang efeknya lebih berbahaya. Selain itu lato lato dikatakan bisa melatih anak lebih fokus atau konsentrasi.

Kemudian bagi yang kontra dengan permainan lato lato ini, mereka merasa terganggu dengan suaranya yang bising sehingga mengganggu ketentraman orang lain. Di samping itu, tidak jarang anak-anak yang menjadi korban lato lato karena keseimbangannya kurang akhirnya buah lato lato menyerang wajah, kepala atau kening sehingga luka atau benjol. Kalau sudah benjol bukannya kesenangan yang didapat tapi penyakit.

Baca Juga :   Prinsip Dasar Leadership diera Digitalisasi Oleh Novri Helmi

Akhirnya, singkat curita, Gusti pohngun kaunyin pun, sikan dua ngajak supaya kita mengarahkan anak-anak untuk lebih waspada dalam memainkan lato lato ini, jangan dibiarkan anak-anak kita menjadi korban baik fisik maupun psikis karena terganggu konsentrasinya dalam belajar. Aturlah waktu anak-anak kita dalam kesehariannya, sehingga waktu yang ada ini tidak tersita hanya untuk memainkan lato lato. Masih banyak tugas dalam hidup ini untuk diisi dengan sesuatu yang lebih bermanfaat demi masa depan yang maju lebih mulia.

OKU Timur
07 Januari 2023

Guru Jiwa
SUDIRMAN

  • Bagikan