Romantisme Politik dan Kaum Pemuda

  • Bagikan

kupas news

(Opini: Budi Tarra Ketua GMNI OKU Timur)

Pemuda dan politik dalam catatan sejarah Indonesia merupakan dua hal yang sangat sulit dipisahkan. Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta adalah bukti bahwa para pemuda telah mengikrarkan janji politik untuk bertanah air satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, Bangsa Indonesia, dan berbahasa satu, Bahasa Indonesia.

Sejarah mencatat Sumpah Pemuda Ini.

Fakta juga membuktikan Denyut nadi sejarah politik Indonesia, dari masa ke masa, tak bisa dilepaskan dari peran pemuda. Peran monumental paling mutakhir kaum muda dalam kancah politik adalah ketika gelombang pasang reformasi menerpa Indonesia pada era 1990 an. Kisah kolosal mengenai kaum muda yang mengubah paras politik nasional yang sudah puluhan tahun menggumbal.

Peristiwa itu sebenarnya di gulung dengan rentetan sejarah kaum muda dalam pentas politik pada era-era sebelumnya. Kisah pemuda juga bermula pada kongres pemuda yang menghasilkan “Trimurti” identitas politik kebangsaan tahun 1928, tepat dua tahun sejak kolonial Belanda membuang “tokoh-tokoh tua” pergerakan kemerdekaan ke luar negeri.

Kaum muda pula yang menginisiasi “penculikan” Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok, sehingga disepakati Indonesia harus Merdeka tanpa terlebih dulu mendapat persetujuan Jepang atau pihak sekutu. Pertalian kisah itu berlanjut pada tahun 1966, ketika gerakan kaum muda terpelajar (mahasiswa) menuntut pembaruan politik dan ekonomi.

Baca Juga :   LATO LATO

Trah politik pemuda terus menitis tanpa putus dalam beberapa dekade berikutnya, dan memuncak pada gerakan mahasiswa tahun 1998. Kala itu, tak peduli pakaian yang lusuh, kulit menghitam terbakar matahari, atau lontaran gas air mata, kaum muda tetap bersetia menantang perkataan sakral penguasa dengan satu tujuan, Rezim Orde Baru (Orba) harus runtuh.

Artinya Pemuda merupakan bagian dari komponen bangsa tidak dapat melepaskan diri dan menghindar dari politik, karena hakekat manusia termasuk pemuda menurut 😎seorang filsuf politik terkenal Aristoteles adalah Zoon Politicon atau mahluk politik. Keberadaannya merupakan bagian dari poltik dan terlibat baik langsung maupun tidak langsung, nyata maupun tidak nyata dalam kehidupan politik.

Pemuda dalam perannya sebagai agen perubahan harus dapat mengawal proses transisi demokrasi kearah yang lebih baik terutama terhadap lima hal yang krusial Pertama, civil society yang bebas dan aktif dalam menentukan pendapat atau partisipasi politik.

Apabila lima hal ini dapat dilakukan maka artinya pemuda sudah bisa menjalankan fungsinya sebagai agen perubahan. Peran pemuda lain yang sangat diharapkan adalah sebagai katalisator politik, untuk mempercepat perubahan lebih baik melalui peran serta secara aktif dalam demokrasi terutama Pemilu dan mampu mengajak masyarakat lainnnya untuk terlibat.

Baca Juga :   Budidaya Melon

Globalisasi ??? adalah hal lain yang perlu dicermati diabad modern yang tidak dapat dipungkiri dan membawa dampak pada perkembangan dan pola pikir generasi muda terutama pada sikap politik yang diambil, dan globalisasi cendrung membuat generasi muda “abai” terhadap demokrasi dan politik sehingga lebih cendrung pada gaya hidup modern yang penuh dengan glamour, hendonis dan hura-hura.

Pendidikan politik sudah seharusnya mendapat tempat dalam proses pendidikan formal disekolah, dan peran aktif pemuda dalam organisasi kemasyarakatan juga perlu didorong agar pemuda tidak takut “seram” dengan politik sehingga tidak akan muncul istilah “Politik Hanyalah Persainagan Untuk Memperebutkan Kursi Kekuasaan”. Sesekali pemuda harusnya mampu melihat politik dalam konteks yang lebih luas untuk kepentingan rakyat banyak. 

Pemuda memang tidak semuanya harus terlibat dalam politik, akan tetapi sejarah telah membuktikan bahwa pemuda pada setiap zamannya merupakan inspirator pembawa perubahan, dalam setiap negara, setiap perubahan selalu ada pemuda yang terlibat.

#romantisme #Pemuda #politik

(Red)

  • Bagikan